Rabu, 27 Agustus 2014

Sosok Di Sore Hari



Oleh                : Imas Rismawati
Tanggal          : 26 Agustus 2014
Pukul              : 22:31

Haruskah aku menceritakannya?
Sebenarnya tak perlu, ini hanya mengenai bunga tidur di sore hari. Tapi tak mengapa lah, aku bukan ingin berbangga hati atau semacamnya. Aku hanya bermaksud unutk  mengingatnya selalu. Karena kemampuan ingatan ku amat sangat terbatas, dan rasanya aku tak mau begitu saja melupakan hinggga akhirnya aku beranggapan bahwa hal itu tak pernah terjadi.
Baiklah, aku akn mulai bercerita. Sore ini aku lagi-lagi beranjak dari keramaian. Mencari tempat yang tenang, meski sebenarnya tak benar-benar tenang. Tempatku saat ini memang tempat umum, tempat berkumpul para pencari ilmu akhirat. Entah perasaan apa yang saat itu melanda, rasanya aku ingin sendiri. Niat awalnya aku akan mengisi waktu kesendirian itu dengan menulis, karena banyak hal yang aku tunda untuk di tulis. Baru kutulis beberapa kata dalam kertas, mataku tiba-tiba tertuju pada handphone. Padahal tak ada pesan atau panggilan. Namun ketika ku lirik, aku malah tertarik untuk meraih ponsel itu. Ku buka pesan dalam kotak masuk, ku coba lihat pesan-pesanku di saat-saat yang lalu, dan bibir ternyata tak kuasa menahan rekahan senyum. Tersenyum entah karena isi pesannya, atau karena sosok yang mengirim pesannya. Tanpa sadar aku melupakan bolpoin yang awalnya ku genggam erat. Jemariku lebih asyik memainkan keypad ponsel. Entah apa yang terjadi selanjutnya, entah aku mengkhayal, atau terhanyut dalam arus kerinduan. Yang kurasa aku tak lagi dalam ragaku, melayang hingga ku di pertemukan dengan sosok yang sempat melintas dalam benakku sore itu. Kamu datang ke mimpiku. Kamu mengunjungi tempat studiku saat ini, bertanya keadaan ku dan memintaku untuk menemanimu berkeliling di tempatku menuntut ilmu. Ah, betapa bahagianya aku. Bertemu sosok yang selama ini aku rindukan.
 Hingga akhirnya angin sore membelaiku, memaksaku untuk segera terjaga dari mimpi yang hanya sekejap itu. Ya, benar-benar sekejap.
Aku kembali tersenyum ketika membuka mata dan mengatakan “ternyata hanya mimpi”. Mimpi yang mampu mengobati rasa rinduku terhadapnya. Terhadap sosok yang tak dapat lagi aku temui di dunia nyata. Karena jarak yang memaksa.
Aku tak tahu ya Rabb, apakah ini caramu mempertemukanku dengannya, atau ini hanya hasutan setan agar aku selalu mengingatnya dan melupakan tujuan awal kehidupanku?. Bimbing aku selalu ya Rabb. Jangan sampai rindu terhadapnya mengalahkan rinduku terhadap Mu dan Rasul Mu. Aku tahu sesungguhnya aku tak layak mengucapkan kata seperti ini, aku tak pantas berucap demikian. Tapi aku janji ya Rabb, semua ini hanya Engkau yang tahu, hanya Engkau yang mengenali sosok yang terwujud dalam mimpiku sore ini. Aku akan merindu dalam diam, aku akan mengagumi dalam hening. Aku akan berusaha menjadikan dia sebagai sosok yang kelak mendapat  pengabdian dariku.
Ya rabb,. Jaga hatinya dan hatiku J                                                                                                                                                                                                                                                          



Tidak ada komentar:

Posting Komentar