Oleh
: Imas Rismawati
Tanggal
: 26 Agustus 2014
Pukul : 22:31
Haruskah aku menceritakannya?
Sebenarnya tak perlu, ini hanya mengenai bunga tidur
di sore hari
. Tapi tak mengapa lah, aku bukan ingin berbangga hati atau
semacamnya. Aku hanya bermaksud unutk mengingatnya selalu. Karena kemampuan ingatan
ku amat sangat terbatas, dan rasanya aku tak mau begitu saja melupakan hinggga
akhirnya aku beranggapan bahwa hal itu tak pernah terjadi.
. Tapi tak mengapa lah, aku bukan ingin berbangga hati atau
semacamnya. Aku hanya bermaksud unutk mengingatnya selalu. Karena kemampuan ingatan
ku amat sangat terbatas, dan rasanya aku tak mau begitu saja melupakan hinggga
akhirnya aku beranggapan bahwa hal itu tak pernah terjadi.
Baiklah, aku akn mulai bercerita. Sore ini aku
lagi-lagi beranjak dari keramaian. Mencari tempat yang tenang, meski sebenarnya
tak benar-benar tenang. Tempatku saat ini memang tempat umum, tempat berkumpul
para pencari ilmu akhirat. Entah perasaan apa yang saat itu melanda, rasanya
aku ingin sendiri. Niat awalnya aku akan mengisi waktu kesendirian itu dengan
menulis, karena banyak hal yang aku tunda untuk di tulis. Baru kutulis beberapa
kata dalam kertas, mataku tiba-tiba tertuju pada handphone. Padahal tak ada
pesan atau panggilan. Namun ketika ku lirik, aku malah tertarik untuk meraih
ponsel itu. Ku buka pesan dalam kotak masuk, ku coba lihat pesan-pesanku di
saat-saat yang lalu, dan bibir ternyata tak kuasa menahan rekahan senyum.
Tersenyum entah karena isi pesannya, atau karena sosok yang mengirim pesannya.
Tanpa sadar aku melupakan bolpoin yang awalnya ku genggam erat. Jemariku lebih
asyik memainkan keypad ponsel. Entah apa yang terjadi selanjutnya, entah aku
mengkhayal, atau terhanyut dalam arus kerinduan. Yang kurasa aku tak lagi dalam
ragaku, melayang hingga ku di pertemukan dengan sosok yang sempat melintas
dalam benakku sore itu. Kamu datang ke mimpiku. Kamu mengunjungi tempat studiku
saat ini, bertanya keadaan ku dan memintaku untuk menemanimu berkeliling di
tempatku menuntut ilmu. Ah, betapa bahagianya aku. Bertemu sosok yang selama
ini aku rindukan.
Hingga
akhirnya angin sore membelaiku, memaksaku untuk segera terjaga dari mimpi yang
hanya sekejap itu. Ya, benar-benar sekejap.
Aku kembali tersenyum ketika membuka mata dan
mengatakan “ternyata hanya mimpi”. Mimpi yang mampu mengobati rasa rinduku
terhadapnya. Terhadap sosok yang tak dapat lagi aku temui di dunia nyata.
Karena jarak yang memaksa.
Aku tak tahu ya Rabb, apakah ini caramu
mempertemukanku dengannya, atau ini hanya hasutan setan agar aku selalu
mengingatnya dan melupakan tujuan awal kehidupanku?. Bimbing aku selalu ya
Rabb. Jangan sampai rindu terhadapnya mengalahkan rinduku terhadap Mu dan Rasul
Mu. Aku tahu sesungguhnya aku tak layak mengucapkan kata seperti ini, aku tak
pantas berucap demikian. Tapi aku janji ya Rabb, semua ini hanya Engkau yang
tahu, hanya Engkau yang mengenali sosok yang terwujud dalam mimpiku sore ini.
Aku akan merindu dalam diam, aku akan mengagumi dalam hening. Aku akan berusaha
menjadikan dia sebagai sosok yang kelak mendapat pengabdian dariku.
Ya rabb,. Jaga hatinya dan hatiku J